JAKARTA | http://catatannews.id | Kericuhan mewarnai aksi unjuk rasa di depan Gedung DPR RI pada Kamis, 27 Agustus 2026. Di tengah situasi yang memanas, seorang jurnalis Suararakyat Info, Lambang Indra Setiawan, menjadi korban lemparan batu saat menjalankan tugas jurnalistik.
Aksi yang mengusung tuntutan penolakan terhadap RUU Perampasan Aset tersebut berlangsung tertib sejak pagi hingga sekitar pukul 17.00 WIB. Namun, situasi mulai berubah menjelang malam.
Lambang Indra Setiawan yang berada di lokasi mengatakan, kericuhan mulai terjadi sekitar pukul 18.20 WIB. Saat itu, sejumlah pengunjuk rasa mulai melempar botol air dan batu ke arah aparat kepolisian.
“Menjelang sore sekitar jam 18.20 WIB, para pengunjuk rasa mulai melempar botol air dan batu ke arah pihak kepolisian,” ujar Indra.»
Menurut Indra, situasi kemudian berkembang menjadi semakin tidak kondusif. Lemparan tidak hanya mengarah kepada aparat, tetapi juga mengenai awak media yang berada di sekitar lokasi untuk melakukan peliputan.
Indra bersama sejumlah jurnalis lainnya kemudian berupaya mencari tempat perlindungan. Aparat kepolisian disebut turut memberikan perlindungan kepada awak media yang berada di lokasi.
“Dalam pantauan saya di lokasi, sejumlah massa mulai melempari botol air dan batu ke arah kami. Saya bersama teman-teman media segera mencari perlindungan. Pihak kepolisian pun sigap memberikan perlindungan kepada kami,” katanya.
Indra mengaku telah mengidentifikasi dirinya sebagai wartawan. Namun, upaya tersebut tidak menghentikan lemparan massa.
“Kami sempat berteriak bahwa kami adalah wartawan, tetapi mereka tidak menghiraukan. Akibatnya, saya terkena lemparan batu di bagian wajah dan mengalami luka,” ungkapnya.»
Setelah terkena lemparan, Indra mendapatkan pertolongan pertama dari pihak kepolisian untuk menangani luka pada bagian wajahnya.
Kericuhan di sekitar lokasi aksi disebut masih berlangsung hingga larut malam. Kondisi tersebut membuat situasi di sekitar Gedung DPR RI tetap tidak kondusif hingga menjelang pagi.
Terkait penyebab kericuhan, Indra menduga terdapat pihak yang melakukan provokasi sehingga aksi yang sebelumnya berlangsung tertib berubah menjadi bentrokan.
“Menurut pendapat saya, demo ini sudah ditunggangi oleh provokator yang sengaja membuat suasana menjadi rusuh,” pungkas Indra.
Peristiwa tersebut kembali menjadi perhatian terhadap aspek keselamatan jurnalis ketika menjalankan tugas peliputan di tengah aksi massa. Awak media yang berada di lapangan membutuhkan ruang aman agar dapat menjalankan fungsi jurnalistik tanpa menjadi sasaran kekerasan.
(Tim Red)

