JAKARTA | http://catatannews.id | Peringatan Hari Kesaktian Pancasila yang diperingati setiap 1 Oktober menjadi momentum untuk kembali menguatkan semangat persatuan, kebersamaan, dan kesatuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Ketua Umum Aliansi Cyber Pers Aktivis Indonesia sekaligus Pimpinan Redaksi Media Aktivis Pers-Indonesia.co.id, Herry Setiawan, S.H., C.BJ., C.EJ., menyampaikan bahwa makna Hari Kesaktian Pancasila tidak hanya sebatas seremoni tahunan, tetapi juga menjadi kesempatan untuk merefleksikan kembali nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan masyarakat.
Menurut Herry, kesaktian Pancasila bukan dimaknai sebagai kekuatan gaib, melainkan sebagai kekuatan nilai dan kebersamaan yang terus dijaga oleh seluruh rakyat Indonesia.
“Kesaktian Pancasila bukan berarti ia kebal dari ujian. Ia tetap sakti selama kita menjaganya. Jika kita membiarkan perpecahan dan membiarkan kebencian menguasai, maka Pancasila tinggal tulisan saja,” ujar Herry.
Ia menilai, lima sila dalam Pancasila merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Nilai Ketuhanan, menurutnya, harus tercermin melalui sikap saling menghormati dan tidak menindas atas nama keyakinan.
Sementara nilai Kemanusiaan diwujudkan dengan tidak melakukan tindakan yang merendahkan atau menyakiti sesama. Persatuan harus dimaknai sebagai kekuatan untuk menjadikan perbedaan sebagai kekayaan bangsa, bukan alasan untuk saling bermusuhan.
Adapun nilai Kerakyatan, lanjut Herry, mengandung pesan agar suara masyarakat didengar dan dihormati. Sedangkan Keadilan Sosial harus diwujudkan melalui perlindungan terhadap masyarakat yang lemah serta mencegah pihak yang kuat bertindak sewenang-wenang.
Herry juga mengajak masyarakat menjadikan peringatan Hari Kesaktian Pancasila sebagai momentum memperkuat persatuan tanpa mempertajam perbedaan.
“Kita boleh berbeda pandangan tentang sejarah. Tapi satu hal yang tak boleh berbeda: tekad agar kejadian kelam tidak terulang. Mengenang korban tanpa menabur kebencian, itulah cara paling mulia menghormati mereka,” katanya.
Menurutnya, persatuan Indonesia merupakan tanggung jawab bersama. Pancasila akan terus menghadapi ujian ketika masyarakat membiarkan ketidakadilan, kebencian, maupun perpecahan terjadi di tengah kehidupan berbangsa.
“Pancasila diuji setiap kali kita diam melihat ketidakadilan. Ia diuji setiap kali kita membenci sesama warga negeri. Itulah ujian sesungguhnya, apakah kita masih memegang teguh, atau mulai membiarkan negeri terpecah,” tutur Herry.
Menutup pernyataannya dalam momentum Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober 2026, Herry mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus menjaga persaudaraan dan kebersamaan.
“Mari kita jadikan Hari Kesaktian Pancasila sebagai titik balik. Saling mengingatkan, saling mengoreksi, namun tetap bergandengan tangan. Pancasila sakti karena rakyatnya bersatu,” ucapnya.
“Selama kita menjaga persatuan, tak ada yang bisa memecah belah negeri ini,” lanjutnya.
Herry menegaskan bahwa Hari Kesaktian Pancasila bukan milik satu golongan, kelompok, maupun pandangan tertentu. Momentum tersebut merupakan bagian dari perjalanan seluruh rakyat Indonesia untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Reporter: Redaksi

